Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Senin, 05 Maret 2012

PENDIDIKAN : BANGSA YANG KEHILANGAN KARAKTER

Senin, 05 Maret 2012
LAMPUNGPOST.COM 
 l






 lampungpost.com/apresiasi/bangsa yang kehilangan karakter
Judul          : Pendidikan Karakter
Penulis       : Agus Wibowo
Penerbit      : Pustaka Pelajar, Yogyakarta
Cetakan      : I, Januari 2012
Tebal Buku : xii, 172 hlm
PENDIDIKAN karakter, saat ini dan mungkin untuk beberapa tahun ke depan sedang ngetrend dan booming. Itu tidak lepas dari gencarnya sosialisasi yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sebagai upaya memperbaiki karakter generasi muda pada khususnya dan bangsa ini pada umumnya. Sebagaimana kita ketahui, karakter bangsa ini tengah terdegradasi. Seperti ditandai dengan tawuran antarpelajar, antarmahasiswa, antarkampung, dan sebagainya. Praktek plagiasi atas hak cipta, perjokian seleksi masuk perguruan tinggi negeri (SMPTN), perjokian ujian nasional (Unas), dan praktek korupsi yang kental mewarnai kehidupan kenegaraan kita. Semua itu hanya sekian dari contoh "amburadulnya"
moralitas dan karakter bangsa kita saat ini.
Pendidikan karakter hadir sebagai solusi problem moralitas dan karakter itu. Meskipun bukan sebagai sesuatu yang baru, pendidikan karakter cukup menjadi semacam gereget bagi dunia pendidikan pada khususnya untuk membenahi moralitas generasi muda. Pendidikan karakter–mungkin-bukan sesuatu yang baru, karena sebelumnya sudah ada pendidikan budi pekerti, Pendidikan Kewarganegaraan (PKn), pendidikan agama, dan sebagainya. Hanya saja, pendidikan karakter ini memiliki kelebihan karena merangkum tiga aspek kecerdasan peserta didik, yaitu kecerdasan afektif, kognitif, dan psikomotorik.
Belum berhasilnya—untuk tidak menyebut gagal—implementasi pendidikan agama, PKn dan sejenisnya, menurut penulis buku ini, disebabkan dua hal pokok, yaitu: Pertama, kurang terampilnya para guru menyelipkan pendidikan karakter dalam proses pembelajaran. Kedua, sekolah terlalu fokus mengejar target-target akademik—khususnya target lulus ujian nasional (UN). Karena sekolah masih fokus pada aspek-aspek kognitif atau akademik, baik secara nasional maupun lokal di satuan pendidikan. Maka, aspek soft skils atau nonakademik sebagai unsur utama pendidikan karakter justru diabaikan.
Bangsa kita sepertinya saat ini kehilangan kearifan lokal yang menjadi karakter budaya bangsa sejak berabad-abad lalu. Seperti maraknya kasus tawuran antarpelajar, antarmahasiswa, dan antarkampung. Tindak korupsi di semua lini kehidupan dan institusi. Kebohongan publik yang telah menjadi bahasa sehari-hari. Tidak ada kepastian hukum, karena pada prakteknya hukum kita bisa diperjualbelikan. Parahnya lagi, bangsa ini miskin figur yang bisa jadi contoh konkret, serta diteladani oleh masyarakat. Maka tidak heran jika pembentukan dan pembinaan karakter bangsa menuju masyarakat yang bermoral, berbudi pekerti luhur dan menjunjung tinggi semangat nasionalisme laksana kapal tanpa pedoman di tengah luasnya samudera.
Membaca fakta-fakta krisis moralitas sebagaimana diuraikan, kalau kita sadar, bangsa ini sedang berada di sisi urang kehancuran; tinggal sedikit lagi masuk tercebur dalam jurang kehancuran. Hal itu sebagaimana pendapat Thomas Lickona, seorang pendidik karakter dari Cortland University. Menurut dia, sebuah bangsa sedang menuju jurang kehancuran, jika memiliki sepuluh tanda-tanda, seperti; 1) meningkatnya kekerasan di kalangan remaja, 2) membudayanya ketidakjujuran, 3) sikap fanatik terhadap kelompok/peer group, 4) rendahnya rasa hormat kepada orang tua dan guru, 5) semakin kaburnya moral baik dan buruk, 6) penggunaan bahasa yang memburuk, 7) meningkatnya perilaku merusak diri seperti penggunaan narkoba, alkohol dan seks bebas, 8) rendahnya rasa tanggung jawab sebagai individu dan sebagai warga negara, 9) menurunnya etos kerja, dan 10) adanya rasa saling curiga dan kurangnya kepedulian diantara sesama.
Kita semua tentu tidak ingin bangsa ini hancur. Alangkah sedinya para Bapak Bangsa dan para pejuang bangsa, yang sudah susah payah merebut kemerdekaan dengan tetesan keringat, darah dan air mata melihat hasil perjuangannya tak tersisa akibat kehancuran. Pertanyaan yang muncul kemudian, apa yang salah dengan bangsa ini. Sehingga sebagian besar generasi muda dan generasi tua telah tergadaikan karakternya. Moralitas, budi dan susila, telah absen dari kehidupan mereka, hingga yang tersisa tidak sedikit pun. Bagaimana cara mengatasi krisis moralitas dan tergadainya karakter sebagian generasi muda itu?
Dapat dikatakan krisis moralitas dan karakter utama bangsa ini, sudah sedemikian akut. Maka, solusi terbaik untuk memperbaiki karakter bangsa ini adalah dengan mengoptimalkan pendidikan karakter. Penerapan pendidikan karakter, sebaiknya melalui proses berkelanjutan, tidak berakhir selama bangsa ini ada dan ingin tetap eksis. Pendidikan karakter uga hrus menjadi bagian terpadu dari pendidikan alih generasi, sehingga ketika terjadi pergantian kepemimpinan—baik presiden atau menteri pendidikan—pendidikan karakter ini jangan sampai dihilangkan, meskipun demi alasan politis sekalipun.
Dalam semangat merevitalisasi dan mengarusutamakan pendidikan karakter itulah buku ini muncul. Di dalamnya dibahas hal ikhwal pendidikan karakter, yang antara lain meliputi: urgensi, pengertian, sejarah, hingga desain dan implementasi pendidikan karakter di berbagai tingkat pendidikan. Dibahas juga bagaimana pendidikan karakter tersebut dilakukan di lingkungan paling intim bagi setiap peserta didik, yakni keluarga. Buku ini layak dibaca oleh para mahasiswa, dosen dan sivitas akademika lain yang bergelut di bidang ilmu pendidikan. Demikian pula para pengambil kebijakan dan praktisi pendidikan: guru dan tenaga pendidikanm dapat menarik informasi dan inspirasi penting dari buku ini.
Imron Nasri, peminat perbukuan, tinggal di Yogyakarta.

1 komentar:

KoBaRkAn EkSpReSiMu mengatakan...

asyek

Poskan Komentar

 

like this

 

Blogger Gadgets